<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Tesis</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/4" rel="alternate"/>
<subtitle>Tesis Mahasiswa STT Amanat Agung (Graduate theses by STTAA students)</subtitle>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/4</id>
<updated>2026-04-13T21:24:39Z</updated>
<dc:date>2026-04-13T21:24:39Z</dc:date>
<entry>
<title>Augustine and Gregory Nazianzen in the Context of East-West Debate on the Procession of the Holy Spirit: a theological assessment</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/743" rel="alternate"/>
<author>
<name>Hendro Lim</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/743</id>
<updated>2026-03-12T08:59:21Z</updated>
<published>2018-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Augustine and Gregory Nazianzen in the Context of East-West Debate on the Procession of the Holy Spirit: a theological assessment
Hendro Lim
The filioque clause refers to the words “and the Son” added to the third article of Latin text of the Niceno-Constantinopolitan Creed: “We believe … in the Holy Spirit, the holy, the lordly and life-giving one, proceeding forth from the Father and the Son [not found in its Greek version], co-worshipped and co-glorified with Father and Son.” The clause, presumably previously found in The Athanasian Creed, was added into the Creed by the anti-Arian Council of Toledo (589) under the leadership of Visigothic Spanish King Reccared. The usage of the interpolated Creed spread throughout the West, although not in Rome until 1014 when Pope Benedict VIII (1012-1024) ratified the interpolated Creed and made the filioque part of Roman liturgy for Sundays and feasts. Meanwhile, in the East, the Greeks understood that the Spirit proceeds from the Father “alone”– although they never added the word to the Creed. During the centuries, only slowly did the Latins and the Greeks increasingly recognize the significance of their differences and the ensuing Filioque Controversy was calamitous to the unity between the Eastern and Western churches. The centuries-old tension eventually broke the Eastern and Western communion. After a failed dialogue, on 16 July 1054, Cardinal Humbert went into Hagia Sophia and placed on its altar a bull of excommunication against Patriarch Michael Cerularius whom in turn pronounced anathema on the authors of the bull. The Great Schism, sometimes considered to be personal between Humbert and Cerularius, was devastating to the already fragile relationship between the Eastern and Western churches. Efforts to heal the communion were made. The Council of Lyon (1274) followed by the Council of Ferrara-Florence (1438-1445) finally paid off with the promulgation of a decree of union, the Laetentur Caeli, on 6 July 1439. However, the decree of union was rejected by many, especially in the East. Some accused the Latins of taking advantage of the political and military declination of Byzantium and forcing the Greeks to sign the decree. Although the Latins continue to acknowledge the ecumenicity of the two councils, they were denied by the Greeks who abandoned the short-lived union shortly after the fall of Constantinople. Thus, the filioque remains a major stumbling block in the relationship between the East and West.
</summary>
<dc:date>2018-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kebangkitan Kristus dalam 1 Korintus 15:20-28: Pembacaan Sosial-Retorik pada Tekstur Ideologi</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/740" rel="alternate"/>
<author>
<name>Aldorio Flavius Lele</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/740</id>
<updated>2026-03-12T03:02:00Z</updated>
<published>2025-05-28T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kebangkitan Kristus dalam 1 Korintus 15:20-28: Pembacaan Sosial-Retorik pada Tekstur Ideologi
Aldorio Flavius Lele
Tesis ini mengeksplorasi kebangkitan Kristus dalam 1 Korintus 15:20–28 dengan pendekatan sosial-retorik Vernon K. Robbins, khususnya analisis tekstur ideologi. Tujuannya adalah mengungkap bagaimana teks ini menantang ideologi kekaisaran Romawi, seperti klaim ketuhanan kaisar (divi filius), narasi Pax Romana, dan supremasi kaisar melalui narasi kebangkitan Kristus sebagai kekuatan transformatif. Konteks Korintus sebagai kota kosmopolitan yang dipengaruhi budaya Hellenistik dan tekanan ideologi kekaisaran menjadi latar penting bagi retorika Paulus. Metode penelitian menggabungkan lima lapisan analisis tekstur sosial-retorik, dengan penekanan khusus pada tekstur intratekstur (struktur retoris internal) dan tekstur ideologi (pergumulan kuasa dalam teks). Bab-bab awal menguraikan kerangka teori dan konteks ideologis Paulus serta dunia Yunani-Romawi, sementara analisis utama dilakukan pada teks 1 Korintus 15:20–28 melalui struktur retorika klasik: propositio, narratio, confirmatio, refutatio, dan peroratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paulus membentuk kebangkitan Kristus sebagai kontra-narasi terhadap hegemoni Romawi: (1) Kristus sebagai buah sulung kebangkitan (ay. 20) menggantikan klaim keabadian kaisar; (2) kemenangan-Nya atas maut (ay. 24–26) menegaskan otoritas ilahi yang mengatasi kuasa duniawi; dan (3) penggunaan Mazmur 110:1 (ay. 27–28) merebut simbol kekaisaran untuk menegaskan Kristus sebagai Kyrios sejati. Dengan demikian, kebangkitan tidak hanya menjadi dasar iman, tetapi juga sarana pembentukan identitas Kristen yang setia kepada Kristus. Tesis ini diharapkan memperkaya kajian Alkitab, khususnya pendekatan interdisipliner terhadap teks, serta memberi refleksi kritis bagi gereja dalam menghadapi tantangan ideologi zaman ini.
</summary>
<dc:date>2025-05-28T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Membimbing menuju Pemahaman: Studi Naratif pada Kisah Filipus dan Sida-Sida Etiopia (Kisah Para Rasul 8:26-40)</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/739" rel="alternate"/>
<author>
<name>Gratia Theovanny Yosua</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/739</id>
<updated>2026-03-12T02:52:41Z</updated>
<published>2025-09-15T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Membimbing menuju Pemahaman: Studi Naratif pada Kisah Filipus dan Sida-Sida Etiopia (Kisah Para Rasul 8:26-40)
Gratia Theovanny Yosua
Tulisan ini mengkaji tindakan pembimbingan yang dilakukan oleh Filipus kepada sida-sida Etiopia dalam Kisah Para Rasul 8:26-40. Tesis ini berangkat dari dua pertanyaan penelitian yaitu bagaimana proses pembimbingan yang dilakukan oleh Filipus dalam teks ini? Apakah terdapat elemen-elemen utama pembimbingan yang dapat ditemukan? Metode naratif merupakan pendekatan yang digunakan untuk menganalisis teks Kisah Para Rasul 8:26-40. Penelitian ini akan menganalisis teks dengan menggunakan pembagian “story level” (meliputi: latar, karakter dan plot) dan “discourse level” (meliputi: tema, urutan peristiwa dan sudut pandang) yang ditawarkan oleh Jeannine K. Brown. Meski Brown menggunakan metode naratif untuk menganalisis kitab-kitab Injil. Tetapi langkah analisis yang ditawarkan juga dapat diterapkan pada teks narasi lainnya, termasuk teks Kisah Para Rasul. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat empat proses pembimbingan yang dilakukan Filipus kepada sida-sida. Yaitu: taat terhadap tuntutan Roh Kudus, membuka percakapan kepada orang yang ditemui, membimbing orang tersebut untuk memahami berita Injil, dan komitmen nyata dari orang yang mendapat bimbingan. Terdapat empat elemen utama dalam pembimbingan yang dilakukan Filipus. Yaitu: pembimbing, orang yang dibimbing, Injil dan Roh Kudus.
</summary>
<dc:date>2025-09-15T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kisah Yusuf dalam Kejadian 44:1-34: Suatu Studi Stilistika</title>
<link href="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/738" rel="alternate"/>
<author>
<name>Yoshua Selan</name>
</author>
<id>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/738</id>
<updated>2026-03-12T03:03:58Z</updated>
<published>2025-09-17T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kisah Yusuf dalam Kejadian 44:1-34: Suatu Studi Stilistika
Yoshua Selan
Tulisan ini mengkaji kisah Yusuf dalam Kejadian 44:1-34 menggunakan metode stilistika. Tesis ini berangkat dari perbedaan pandangan para ahli tentang makna kisah Yusuf dalam Kejadian 44:1-34. Kisah Kejadian 44:1-34 mengandung unsur stilistika yang terdiri dari sepuluh jenis bahasa figuratif, lima jenis penyiasatan struktur, dan dua jenis citraan. Keberadaan unsur-unsur stilistika tersebut menciptakan kesan pembaca terhadap bahasa figuratif dengan menampilkan keindahan ekspresi, kejutan makna, kekuatan emosi, dan penyisipan simbolisme. Kesan pembaca terhadap penyiasatan struktur adalah menampilkan ketegangan dialog, kedalaman karakterisasi, serta ritme struktur berpola yang harmoni. Terakhir, kesan pembaca terhadap citraan adalah menampilkan pengalaman sensorik, penguatan suasana, visualisasi simbolis, dan kedalaman psikologis para tokoh. Penelitian juga menemukan beberapa gaya bahasa yang penting dalam Kejadian 44:1-34. Fungsi gaya bahasa hiperbola mengandung tuturan yang disampaikan dengan cara estetis dan penuh makna. Efek estetis yang ditimbulkan dari gaya bahasa retoris ialah: kuatnya ketegangan secara emosional ketika Yehuda menyampaikan pembelaannya. Gaya bahasa personifikasi juga membantu memunculkan makna pengujian Yusuf kepada saudara-saudaranya dan memperkuat karakter tokoh Yusuf yang memiliki wibawa spiritual dengan bantuan piala tersebut. Gaya bahasa klimaks membawa pembaca untuk terus masuk dalam ketegangan demi ketegangan di setiap adegan yang ditampilkan pada teks dan membangkitkan emosi dan masuk dalam suasana seolah-olah berada dalam peristiwa.
</summary>
<dc:date>2025-09-17T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
