<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/1">
<title>Repositori STT Amanat Agung</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/1</link>
<description>Repositori STT Amanat Agung, Jakarta</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/772"/>
<rdf:li rdf:resource="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/771"/>
<rdf:li rdf:resource="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/770"/>
<rdf:li rdf:resource="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/769"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-06-29T02:00:20Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/772">
<title>Membangun Keluarga Misional di GBI CLCC Bandung</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/772</link>
<description>Membangun Keluarga Misional di GBI CLCC Bandung
Andi Sugiharto Setiawan
Penelitian ini bertolak dari kesenjangan di GBI City Light Community Church (GBI CLCC) Bandung, di mana hanya sekitar sepuluh persen jemaat yang terlibat aktif dalam pelayanan misi integral, sementara visi gereja memanggil seluruh jemaat untuk menyatakan Kerajaan Allah melalui seluruh dimensi kehidupan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan karakteristik keluarga misional, mengidentifikasi hambatan pembentukannya di GBI CLCC, serta merancang strategi pembinaan yang efektif. Penelitian ini menggunakan tiga metode, yaitu kajian literatur, riset lapangan dengan pendekatan kualitatif, serta tahap perancangan program. Temuan penelitian menunjukkan tiga hal utama. Pertama, pemahaman missio Dei yang integral belum merata; mayoritas jemaat masih memahami misi secara programatik dan karitatif, belum sebagai identitas umat Allah yang diutus. Kedua, hambatan utama mencakup tiga kategori: hambatan pemahaman misional, hambatan personal relasional terutama krisis relasi keluarga, serta hambatan keterbatasan gereja. Temuan yang signifikan menunjukkan bahwa kesehatan relasional keluarga merupakan prasyarat keterlibatan misional, sekaligus menghadirkan peluang misional yang besar. Ketiga, GBI CLCC memiliki kekuatan berupa struktur Home dan keluarga-keluarga yang telah menjadi teladan misional. Sebagai respons, penelitian ini merancang program Family on Mission, yaitu strategi pembinaan keluarga misional berbasis ekosistem yang dibangun di atas lima pilar: Gospel Encounter, Gospel-Centered Teaching, Home Misional, Family Discipleship, dan Pengalaman Misional Bersama. Program ini dioperasionalkan melalui Jalur Pemulihan, Jalur Persahabatan, Jalur Home, dan Jalur Kepemimpinan, dengan target peningkatan keterlibatan misi aktif jemaat dari sekitar sepuluh persen menjadi setidaknya tiga puluh persen dalam jangka waktu empat tahun.
</description>
<dc:date>2026-05-26T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/771">
<title>Pengakuan Iman Nicea dan Pemahaman Bersama Iman Kristen (PBIK) 2024: Suatu Kajian Teologis Mengenai Keesaan Gereja dan Tanggung Jawab Kesaksian di Indonesia</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/771</link>
<description>Pengakuan Iman Nicea dan Pemahaman Bersama Iman Kristen (PBIK) 2024: Suatu Kajian Teologis Mengenai Keesaan Gereja dan Tanggung Jawab Kesaksian di Indonesia
Casthelia Kartika
Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel (325/381) merupakan landasan teologis Gereja yang&#13;
menegaskan keilahian Yesus Kristus dan rumusan Trinitas sebagai dasar keesaan umat Allah. Di&#13;
Indonesia, gereja-gereja menghadapi kompleksitas baru yang bersifat multidimensi - disebut&#13;
sebagai polycrisis - yang meliputi krisis kesatuan gereja, krisis ekologis, krisis kemanusiaan, krisis&#13;
keluarga, krisis sosial, krisis teknologi, dan berbagai krisis lainnya. Dalam konteks tersebut,&#13;
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menerbitkan Pokok-Pokok Bersama Iman Kristen&#13;
(PBIK) 2024 sebagai rumusan ru pemahaman iman yang menekankan paradigma baru Trinitarian,&#13;
yaitu Allah Persekutuan dan Allah Misional, serta mengusung model kesaksian “ecumenism in action.?"&#13;
Artikel ini menunjukkan hubungan teologis antara Pengakuan Iman Nicea dan PBIK 2024, serta&#13;
menafsirkan bagaimana kedua dokumen tersebut bersama-sama menyediakan kerangka teologis&#13;
yang relevan bagi gereja-gereja Indonesia dalam melaksanakan kesaksiannya di tengah masyarakat&#13;
majemuk. Melalui pendekatan historis-teologis dan analisis kontekstual, artikel ini menegaskan&#13;
bahwa PBIK 2024 bukan hanya rumusan dogmatis, melainkan perwujudan sebuah nilai praksis&#13;
dari kesaksian Gereja yang nyata di tengah masyarakat Indonesia.
</description>
<dc:date>2025-11-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/770">
<title>Yohanes dan Antikristus</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/770</link>
<description>Yohanes dan Antikristus
Jonly Joihin
Ditinjau dari sudut bahasa, istilah "antikristus" sebenarnya memiliki makna yang sederhana. Kata "antikristus" adalah kata majemuk, bentukan dari kata benda "Kristus", yang merujuk pada Yesus Kristus, dan awalan bentuk terikat "anti-" yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi VI berarti "menentang, melawan, memusuhi." Jadi, secara ringkas antikristus dapat diartikan sebagai, "menentang Kristus", "melawan Kristus", atau "memusuhi Kristus". Namun, pada kenyataannya, pemahaman tentang apa atau siapa yang disebut antikristus di dalam Alkitab tidak sesederhana itu bagi orang Kristen dalam sejarah. Banyak pandangan telah dikemukakan. Pandangan-pandangan ini tidak jarang menimbulkan kebingungan dan bahkan keresahan di antara orang Kristen. Jadi, apa atau siapa antikristus itu? Apa yang dimaksud dengan antikristus dalam Alkitab, secara khusus menurut Yohanes dalam surat-suratnya? Sebelum melakukan penggalian terhadap makna antikristus dalam Alkitab, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu berbagai pandangan yang pernah muncul dalam sejarah tentang apa atau siapa antikristus itu.
</description>
<dc:date>2026-03-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/769">
<title>Paulus dan Konflik Gereja</title>
<link>http://159.65.2.74:8080/xmlui/handle/123456789/769</link>
<description>Paulus dan Konflik Gereja
Surif
Konflik sangat melekat dalam kehidupan kita sebagai manusia. Ini dapat terjadi di antara anggota keluarga, sahabat, tetangga, rekan kerja, suku bangsa bahkan negara. Gereja sebagai suatu komunitas ternyata juga tidak kebal dari konflik. Konflik dapat terjadi di antara anggota gereja, antara anggota dan pemimpin gereja, hingga antara para pemimpin gereja. Bagaimanapun bentuknya dan siapa pun yang terlibat, konflik akan melemahkan gereja. Oleh sebab itu, konflik perlu diselesaikan dengan baik. Tulisan ini mencoba mengupas satu prinsip penting dalam penanganan konflik gereja. Prinsip ini diangkat dari Alkitab. Perjanjian Baru memperlihatkan bahwa konflik sudah terjadi sejak awal gereja didirikan. Dalam perjalanan ke Yerusalem, murid-murid Yesus bertengkar memperebutkan posisi tertinggi di antara mereka (Mrk. 10:35-45; Luk. 9:46-48; Mat. 20:20-28). Gereja mula-mula di Yerusalem yang sedang berkembang pesat mengalami konflik berkenaan pelayanan diakonia (Kis. 6). Beberapa surat Paulus, seperti Filipi, 1 Korintus, dan Roma, ternyata ditulis untuk menangani konflik gereja. Berkenaan dengan hal ini, tulisan ini menyoroti bagaimana Paulus menangani konflik dalam gereja-gereja tersebut melalui surat-suratnya. Pembahasan difokuskan pada Injil Yesus Kristus. Umat Kristen biasanya memahami Injil ini sebagai obyek iman yang menjadi dasar keselamatan sebagaimana yang dinyatakan dalam Roma 1:16: "Sebab, aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani." Ini tentu saja kepercayaan kita sebagai umat Kristen. Namun demikian, kita sering kali melupakan bahwa Paulus juga menjadikan Injil Yesus Kristus sebagai prinsip hidup umat Kristen sebagaimana kesaksiannya di Galatia 2:19-20: "Sebab, aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus. Namun, aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." Berangkat dari ini, tulisan ini menyoroti bagaimana Paulus memakai Injil Yesus Kristus dalam penanganan konflik gereja dalam surat-suratnya. Pembahasan dimulai dari surat Filipi karena surat ini menampilkan konten Injil Kristus secara lebih komprehensif.
</description>
<dc:date>2026-03-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
