STT Amanat Agung Repository

Komunitas Nir-Kekerasan

Show simple item record

dc.provenance Jakarta
dc.contributor.author Armand Barus
dc.date.issued 2003
dc.identifier.isbn 979-8148-18-5
dc.description Perang dan kekerasan telah dan sedang membentuk peradaban manusia. Sejarah dunia ditulis dengan darah. Peradaban dunia diubah dan berubah oleh darah. Kekerasan terakhir yang mengubah peradaban dunia secara signifikan dikenal sebagai Tragedi 11 September 2001. Tidak heran jika saat ini banyak orang melihat sejarah dunia dalam dua bagian: sebelum dan sesudah 11 September2001. Mungkin pembagian seperti ini terlalu berlebihan. Namun, jelas Tragedi 11 September membawa dampak yang sangat hebat bagi peradaban dunia masa kini. Kekerasan mengubah dunia. Fenomena demikian bukanlah sesuatu yang baru. Dua kali perang dunia, misalnya, telah mengubah peradaban manusia. Namun, semakin disadari ternyata perubahan yang disebabkan kekerasan tidaklah membawa pembaruan terhadap peradaban manusia. Kekerasan memang menyebabkan perubahan, tetapi tidak membawa pembaruan. Apakah dunia memang dibentuk oleh kekerasan? Sebenarnya tidak. Peradaban dunia, di lain pihak, diubah dan diperbarui oleh tindakan-tindakan nir-kekerasan. Tetapi, manusia lebih memperhatikan kekerasan karena dianggap hanya kekerasan yang membawa perubahan. Itulah sebabnya, mengapa pembaruan-pembaruan dunia yang disebabkan tindakan-tindakan nir-kekerasan diabaikan, Itulah sebabnya, mengapa sejarah didominasi oleh catatan dan rekaman kekerasan. Dalam kaitan dengan itu, perlu disyukuri ketika Dewan Gereja-gereja Sedunia (WCC) telah menetapkan tahun 2001 - 2010 sebagai Dekade Menanggulangi Kekerasan {Decade to Overcome Violence). Gereja-gereja di Indonesia melalui PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) telah mengadopsi program ini. Dengan demikian, perhatian terhadap nir-kekerasan lebih mencuat ke permukaan. Di Indonesia, kekerasan tidak saja menjadi catatan sejarah. Bahkan kekerasan sudah menjadi kenyataan sehari-hari. Memprihatinkan bila muncul pernyataan bahwa kekerasan sudah merupakan budaya Indonesia. Terlepas apakah setuju atau tidak terhadap frasa "budaya kekerasan" itu, jelas terlihat maraknya berbagai bentuk kekerasan di Indonesia. Sebelum mengusulkan penanggulangan kekerasan, perlu dibentangkan terlebih dulu sketsa buram kekerasan di Indonesia. en_US
dc.language.iso Indonesia en_US
dc.publisher Universitas Kristen Indonesia Press en_US
dc.subject Komunitas en_US
dc.title Komunitas Nir-Kekerasan en_US
dc.type Book Chapter en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

  • Bab Buku
    Bab buku karya civitas academica STT Amanat Agung (Book chapters by STTAA community)

Show simple item record

Search DSpace


Advanced Search

Browse

My Account