| dc.description |
Saat ini kesehatan mental merupakan topik yang banyak diangkat ke permukaan. Data Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa satu dari delapan orang di dunia mengalami gangguan kesehatan mental (mental disorder). Di Indonesia sendiri satu dari sepuluh orang (10%) dilaporkan mengalami gangguan kesehatan mental. Banyaknya isu terkait kesehatan mental mendorong WHO membuat pernyataan yang cukup keras: "Business as usual for mental health simply will not do." Kondisi kesehatan mental saat ini perlu ditanggapi dengan serius, inovatif, dan dari berbagai perspektif. Dari sisi Kristen, penelitian yang banyak dilakukan adalah penelitian dari perspektif praktika, seperti pastoral atau konseling Kristen. Sedikit sekali yang mengangkat dan menganalisis dari perspektif biblika atau melalui dialog yang mendalam dengan teks Alkitab. Meskipun Alkitab tidak secara eksplisit berbicara mengenai kesehatan mental, ada beberapa teks dan kisah yang mengangkat isu dan topik yang sangat dekat dengan apa yang sekarang kita sebut sebagai isu kesehatan mental. Salah satu kisah Alkitab yang sarat dengan isu kesehatan mental adalah kisah Nabi Elia, khususnya dalam 1 Raja-Raja 19. Elia baru saja mengalami 'kesuksesan' dalam pelayanannya, di mana, melalui peristiwa supranatural, ia membuktikan kepada umat Israel bahwa YHWH adalah Tuhan yang sejati. Ditambah lagi, setelah itu hujan turun di Israel. Padahal sebelumnya selama tiga tahun, sebagai tanda hukuman Tuhan, hujan tidak turun. Ini menjadi penutup kisah yang baik-seharusnya. Kenyataannya tidak demikian. Kondisi rohani dan mental Elia mengalami spiralling down. Elia justru makin lama makin terpuruk. Apa sebenarnya yang ia alami-khususnya terkait konteks kesehatan mental? Mengapa Elia bisa mengalami hal demikian? Bagaimana Allah berespons pada kondisi Elia? Tiga pertanyaan ini yang akan kita pelajari. Sedikit disclaimer sebelum kita lanjut. Secara khusus kita akan memperhatikan deskripsi karakter Elia terkait fenonema kesehatan mentalnya. Dengan kata lain, tujuan penulis bukan untuk melakukan diagnosis klinis atau membuat tegak diagnosis mengenai kondisi psikologis Elia karena hal ini tidaklah mungkin dan berada di luar ranah studi biblika. Yang akan kita lakukan adalah memperhatikan dan memperlihatkan kemiripan antara deskripsi narasi Elia dengan deskripsi gejala permasalahan kesehatan mental. Kemudian kita akan menganalisis bagaimana respons Allah terhadap kondisi Elia tersebut. Namun, sebelum kita menggali teks 1 Raja-Raja 19, kita perlu terlebih dahulu memahami sedikit mengenai konsep kesehatan mental. |
en_US |