| dc.description.abstract |
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis narasi kekuasaan dalam pengadilan Yesus dalam Injil Lukas 22-23 dengan menggunakan pendekatan analisis naratif. Studi ini dilatarbelakangi oleh dua arus utama dalam penafsiran Injil Lukas, yaitu pandangan yang melihat Lukas tidak melawan Kekaisaran Romawi dan pandangan yang menilai Lukas mengandung kritik terhadap ideologi kekaisaran, yang umumnya lebih menekankan aspek historis sehingga belum sepenuhnya memperhatikan cara narasi membentuk makna teologis. Penelitian ini berfokus pada teks dalam bentuk finalnya dengan menganalisis unsur-unsur naratif seperti setting, alur, karakterisasi, ironi, dan simbol, serta bagaimana unsur-unsur tersebut bekerja dalam membangun makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lukas secara naratif membangun kontras antara kuasa duniawi dan kuasa Allah, di mana kuasa religius dan politik ditampilkan sebagai rapuh dan tidak adil, sementara Yesus hadir sebagai pemilik otoritas sejati yang berasal dari Allah. Melalui struktur naratif dan penggunaan ironi, Lukas membalik persepsi pembaca tentang kekuasaan, sehingga Lukas 22-23 menegaskan bahwa kuasa Allah melampaui dominasi kuasa duniawi. |
en_US |