| dc.description.abstract |
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberagaman pemaknaan jemaat atas praktik memberi persembahan di Gereja Masehi Musafir Indonesia (GMMI) Jemaat Ayalon Oeli’i, Nusa Tenggara Timur (NTT). Keberagaman ini memunculkan persoalan yang lebih mendasar daripada sekedar praktis, yakni belum adanya landasan teologis yang baku mengenai hakikat serta tujuan dari praktik persembahan, yang pada akhirnya membuka ruang bercampurnya pemahaman jemaat dengan nilai-nilai budaya komunal, yang berpotensi mengalami distorsi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan merefleksikan secara teologis pengalaman jemaat dalam memberi persembahan, agar praktik persembahan dapat sesuai dengan esensinya sebagai respons atas anugerah Kristus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dari Smith, Flowers, dan Larkin, yang diintegrasikan dengan kerangka teologi praktika dari Swinton dan Mowat serta fenomenologi deskriptif dari Creswell dan Poth, melalui wawancara mendalam terhadap lima partisipan. Hasil penelitian menemukan empat Group Experiential Themes (GETs) yakni, persembahan sebagai ungkapan syukur sekaligus kewajiban, Persembahan sebagai ungkapan syukur dan kewajiban, Memberi persembahan karena didasari tekanan sosial dan takut akan penilaian orang, Pengalaman memberi persembahan nazar dan iuran dengan berutang, Pengaruh budaya komunal dalam praktik memberi persembahan. Peneliti merumuskan pembaruan praktis melalui transformasi semangat gotong royong menjadi koinonia yang berfokus pada syukur, tanpa menghapus nilai kekeluargaan jemaat. |
en_US |