Abstract:
Penelitian ini menganalisis makna Yeremia 20:7–18 dari perspektif studi
trauma. Paruh pertama kitab Yeremia (1-20), termasuk teks Yeremia 20:7–18
memuat bahasa dan pengalaman traumatis yang mencerminkan pergumulan
batin seorang nabi dalam menghadapi penderitaan. Untuk menyingkap
dimensi psikologis yang tersirat dalam ratapan Yeremia, penelitian ini
menggunakan pendekatan studi trauma yang dilakukan melalui dua langkah
utama. Pertama, mengidentifikasi jejak-jejak trauma dalam teks, yang
mencakup penelusuran terhadap peristiwa pemicu trauma, pengulangan kata,
frasa, dan tema, serta gangguan terhadap sistematika atau struktur naratif.
Kedua, menganalisis makna trauma dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa Yeremia 20:7–18 menggambarkan pengalaman traumatis yang bersifat
multidimensi. Secara spiritual, Yeremia mengalami pergulatan iman yang
membuat relasinya dengan Allah tampak retak. Secara sosial, ia menghadapi
penolakan dan ejekan komunitas, yang menimbulkan rasa keterasingan
mendalam. Secara eksistensial, Yeremia mengalami krisis makna hidup hingga
mencapai puncak keputusasaan. Pendekatan studi trauma membantu melihat
teks ini bukan hanya sebagai ungkapan teologis tentang relasi seorang nabi
dengan Allah, tetapi juga sebagai luapan luka batin yang mendalam.