Description:
Konflik sangat melekat dalam kehidupan kita sebagai manusia. Ini dapat terjadi di antara anggota keluarga, sahabat, tetangga, rekan kerja, suku bangsa bahkan negara. Gereja sebagai suatu komunitas ternyata juga tidak kebal dari konflik. Konflik dapat terjadi di antara anggota gereja, antara anggota dan pemimpin gereja, hingga antara para pemimpin gereja. Bagaimanapun bentuknya dan siapa pun yang terlibat, konflik akan melemahkan gereja. Oleh sebab itu, konflik perlu diselesaikan dengan baik. Tulisan ini mencoba mengupas satu prinsip penting dalam penanganan konflik gereja. Prinsip ini diangkat dari Alkitab. Perjanjian Baru memperlihatkan bahwa konflik sudah terjadi sejak awal gereja didirikan. Dalam perjalanan ke Yerusalem, murid-murid Yesus bertengkar memperebutkan posisi tertinggi di antara mereka (Mrk. 10:35-45; Luk. 9:46-48; Mat. 20:20-28). Gereja mula-mula di Yerusalem yang sedang berkembang pesat mengalami konflik berkenaan pelayanan diakonia (Kis. 6). Beberapa surat Paulus, seperti Filipi, 1 Korintus, dan Roma, ternyata ditulis untuk menangani konflik gereja. Berkenaan dengan hal ini, tulisan ini menyoroti bagaimana Paulus menangani konflik dalam gereja-gereja tersebut melalui surat-suratnya. Pembahasan difokuskan pada Injil Yesus Kristus. Umat Kristen biasanya memahami Injil ini sebagai obyek iman yang menjadi dasar keselamatan sebagaimana yang dinyatakan dalam Roma 1:16: "Sebab, aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani." Ini tentu saja kepercayaan kita sebagai umat Kristen. Namun demikian, kita sering kali melupakan bahwa Paulus juga menjadikan Injil Yesus Kristus sebagai prinsip hidup umat Kristen sebagaimana kesaksiannya di Galatia 2:19-20: "Sebab, aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus. Namun, aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." Berangkat dari ini, tulisan ini menyoroti bagaimana Paulus memakai Injil Yesus Kristus dalam penanganan konflik gereja dalam surat-suratnya. Pembahasan dimulai dari surat Filipi karena surat ini menampilkan konten Injil Kristus secara lebih komprehensif.