Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pelayanan Peer Counselor yang dapat meningkatkan peran gereja dalam memberikan pendampingan kesehatan mental bagi remaja pemuda Gereja Kristus Ketapang (GKK). Saat ini, kebutuhan pendampingan masalah kesehatan mental tampak meningkat, khususnya di kalangan remaja pemuda. Namun kebutuhan pendampingan kesehatan mental ini tampak kurang terakomodasi di gereja. Pelayanan gereja tampak diwarnai oleh pola pikir dikotomi yang kurang menekankan keterkaitan antara aspek spiritual dan mental. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan Focus Group Discussion (FGD). Data dikumpulkan melalui proses FGD dengan 5 remaja dan 4 pemuda GKK untuk memahami perspektif dan penghayatan mereka mengenai peran gereja terhadap pendampingan kesehatan mental selama ini dan harapan remaja pemuda akan pelayanan pendampingan ini di gereja. Hasil penelitian menunjukkan (1) secara kognitif, remaja pemuda menyadari adanya kebutuhan pendampingan kesehatan mental dan memiliki pemahaman akan korelasi antara aspek spiritual dan aspek mental. Namun pemahaman kognitif tersebut tampak tidak sejalan dengan praktik hidup sehari-hari. (2) adanya kebutuhan wadah khusus yang mengakomodasi pendampingan kesehatan mental melalui pendekatan Spiritual Friendship, di mana teman dapat berfungsi sebagai teman perjalanan spiritual sekaligus konselor (Peer Counselor) bagi teman-teman dalam komunitasnya.