Abstract:
Penderitaan merupakan realitas eksistensial yang secara fundamental menantang iman Kristen. Dalam hal ini, doktrin providensia Allah menurut John Calvin layak diperhitungkan untuk menjelaskan penderitaan dan kejahatan. Meskipun demikian, para teolog kontemporer menilai bahwa penekanan Calvin pada kedaulatan Allah yang absolut berisiko mereduksi Allah sebagai pencipta dosa dan penyebab penderitaan. Doktrin ini dianggap tidak memadai dalam memberikan penghiburan praktis dalam tragedi karena mengancam rasa aman jiwa, memicu krisis iman, melahirkan sikap fatalistik, serta membungkam ruang ratapan bagi para korban penderitaan. Merespons diskursus tersebut, penelitian ini bertujuan untuk membaca ulang doktrin providensia Allah menurut Calvin guna menyelidiki dimensi pastoralnya dan menilai relevansi praktisnya sebagai sumber penghiburan bagi orang percaya yang menderita. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif-analisis teologis melalui studi kepustakaan terhadap karya primer Calvin dan literatur teologi Reformed. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedaulatan Allah dalam pemikiran Calvin tidak bersifat deterministik yang kaku apabila dikaji secara utuh dalam kerangka Trinitaris. Providensia Allah menyingkapkan pemerintahan yang aktif, adil, dan penuh kasih kebapaan, yang menghasilkan dimensi pastoral yang kuat, bahkan sangat relevan secara praktis untuk menuntun orang percaya merespons penderitaan melalui ucapan syukur, doa, dan ketekunan penyerahan diri, serta menegaskan peran gereja sebagai ruang ratapan yang membawa orang percaya kepada pengharapan yang kokoh.