Abstract:
Konfusianisme memiliki pengaruh signifikan dalam pembentukan pola pikir
dan praktik kepemimpinan masyarakt Tionghoa. Dari pemikiran ini lahir
model kepemimpinan paternalistik yang menekankan otoritas pemimpin,
nilai perikemanusiaan, serta integritas moral. Melalui studi literatur,
penelitian ini meninjau tiga konsep kepemimpinan yang berakar dalam
Konfusianisme—tujuan mencapai keharmonisan dan kemakmuran, prinsip
perikemanusiaan ketika memimpin, dan etos senantiasa mengembangkan
diri—dan meninjaunya dari perspektif teologi Kristen. Hasil kajian
menunjukkan adanya beberapa aspek yang dapat diapresiasi, seperti
pentingnya keteladanan moral dalam diri seorang pemimpin, orientasi pada
kesejahteraan komunitas, serta kesadaran bahwa kepemimpinan merupakan
proses pembentukan diri seumur hidup. Namun, premis antropologis
Konfusianisme mengenai natur manusia yang dapat dibentuk dan
disempurnakan melalui pendidikan dan usaha manusia perlu dikritisi
menurut pengajaran Kristen, terutama tentang dosa. Kajian ini diharapkan
dapat membantu orang percaya dalam konteks Tionghoa untuk membaca
kembali warisan budayanya dan mengapresiasinya secara kritis sebagai salah
satu gema kebenaran Allah yang hadir di luar tembok gereja (extra muros
ecclesiae).